makalah “AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN SOSIAL Yakni Surat al-Anfaal ayat 53 dan Surat Muhammad ayat 38″

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Itu adalah suatu gambaran yang terdapat dalam Al-quran, dimana perubahan sosial bisa  terjadi dalam masyarakat salah satu faktor yang menentukan adalah masyarakat itu sendiri. Dan untuk menciptakan perubahan yang sosial yang ada dalam masyarakat adalah dengan pendidikan.

Dari uraian diatas, makanya penulis mencoba menguraikan makalah yang berjudul “Ayat Al-Qur’an Tentang Pendidikan dan Perubahan Sosial,yakni Surat al-Anfaal ayat 53 dan Surat Muhammad ayat 38” pada mata kuliah Tafsir Tarbawi kali ini.

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari paparan latar belakang masalah diatas dapat kita rumuskan rumusan masalah sebagai berikut: “Bagaimana tafsiran Mufassirin dan penulis makalah tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan pendidikan dan perubahan sosial, yaitu Surat Al-Anfaal ayat 53 dan Surat Muhammad ayat 38?”

  1. C.    Tujuan Penulisan

Untuk menjelaskan tafsiran Mufassirin dan penulis makalah tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan pendidikan dan perubahan sosial. yaitu Surat Al-Anfaal ayat 53 dan Surat Muhammad ayat 38.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    AYAT AL QURAN TENTANG PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
  1. Q. S. Al Anfaal : 53

y7Ï9ºs?  cr’Î/ ©!$# öNs9 à7t? #Z?ÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4?n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rç?Éitóã? $tB öNÍkŦàÿRr’Î/   ?cr&ur ©!$# ìì?ÏJy? ÒO?Î=tæ ÇÎÌÈ

Artinya: “ (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”[1]

  1. Q.S. Muhammad : 38

óOçFRr’¯»yd ÏäIwàs¯»yd ?cöqtãô?è? (#qà)ÏÿZçFÏ9 ?Îû È@?Î6y? «!$# Nà6YÏJsù `¨B ã@y?ö7t? ( `tBur ö@y?ö6t? $yJ¯RÎ*sù ã@y?ö7t? `tã ¾ÏmÅ¡øÿ¯R 4 ª!$#ur ÓÍ_tóø9$# ÞOçFRr&ur âä!#ts)àÿø9$# 4 cÎ)ur (#öq©9uqtGs? öAÏ?ö7tFó¡o? $·Böqs% öNä.u?öxî ¢OèO ?w (#þqçRqä3t? /ä3n=»sVøBr& ÇÌÑÈ

Artinya: “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.”[2]

  1. B.     MUFRODAD
  • 7Ï9ºs? “ itu” dalam ayat ini berarti siksaan, ini dihubungkan dengan ayat sebelumnya.
  • Kata ?? ?? ( surat Al Anfaal) pada mulanya berbunyi ?? ??? . Penghapusan huruf nun itu untuk mempersingkat sekaligus mengisyaratkan bahwa peringatan dan nasihat yang dikandung ayat ini hendaknya segera  disambut dan jangan diulur-ulur, karena mengulur dan memperpanjang hanya mempercepat siksa. Demikian yang diperoleh Al Biqo’i.[3]
  • #Z?ÉitóãB ºpyJ÷èÏoR  “mengubah nikmat” kalimat ini mempunyai arti Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.
  1. C.    PENJELASAN AYAT

Allah tidak menyerahkan manusia kepada hal-hal yang sepintas kilas, juga tidak kepada kebetulan-kebetulan yang tidak ada patokannya. Semuanya diatur dengan sunnah-Nya yang ditetapkan dengan qadar-Nya. Apa yang menimpa kaum musyrikin  pada waktu perang Badar adalah yang juga menimpa Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya.

Allah SWT telah memberikan nikmat-Nya kepada mereka, telah memberikan rezeki dan karunia-Nya, telah meneguhkan kekuasaan untuk mereka di muka bumi dan telah menjadikan mereka khalifahnya. Semua ini diberikan Allah kepada manusia sebagai ujian dan cobaan dengan tujuan untuk menilai mereka apakah mereka mau bersyukur atau malah kufur, ternyata mereka malah bertindak kufur dan tidak bersyukur. Mereka berlaku sombong  dan melampaui batas dengan nikmat yang diberikan itu. Mereka terperdaya oleh nikmat dan kekuatan itu lantas menjadi sewenang-wenang, melampaui batas, kafir dan durhaka. Ayat-ayat Allah pun didatangkan kepada mereka tetapi mereka mengkufurinya.

Pada waktu itu berlakulah atas mereka sunnah Allah yang berlaku terhadap orang-orang kafir sesudah sampai kepada mereka ayat-ayat-Nya, tetapi mereka mangingkarinya. Pada waktu itu Allah mengubah nikmat itu dan menghukum mereka dengan azab serta menghancurkan mereka.

Dalam tafsir al-Mishbah Surat Al anfal ayat 53

y7Ï9ºs?  cr’Î/ ©!$# öNs9 à7t? #Z?ÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4?n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rç?Éitóã? $tB öNÍkŦàÿRr’Î/   ?cr&ur ©!$# ìì?ÏJy? ÒO?Î=tæ ÇÎÌÈ

Apa yang dialami oleh orang-orang kafir itu penyebabnya dijelaskan oleh ayat ini. Demikian kesimpulan hubungan yang dikemukakan oleh sekian pakar. Al-Biqo’i yang dikenal sebagai mufassir yang memberi perhatian yang sangat besar tentang hubungan antar ayat dan surah Al Quran, menghubungkan ayat ini dengan ayat yang lalu, melalui suatu pertanyaan yang dilukiskan muncul akibat uraian ayat-ayat yang lalu. Yaitu kalau memang Allah mengetahui bahwa mereka pasti berdosa maka mengapa Allah tidak segera saja mereka?, mengapa Allah memberi mereka peluang untuk mengganggu orang-orang yang dekat kepadanya?

Nah, ayat ini menurut  Al Biqa’i menjawab pertanyaan itu yakni bahwa yang demikian yakni siksaan baik menyangkut waktu, kadar maupun jenisnya ditetapkan Allah berdasarkan perbuatan mereka mengubah diri mereka. Sebenarnya Allah dapat menyiksa mereka berdasar pengetahuannya tentang isi hati mereka. Yakni sebelum mereka melahirkannya dalam bentuk perbuatan yang nyata, tetapi Allah tidak melakukan itu karena sunnah dan ketetapannya. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat sedikit atau besar yang telah dianugerahnya kepada suatu kaum, tidak juga sebaliknya mengubah kesengsaraan yang dialami oleh suatu kaum menjadi kebahagiaan hingga kaum itu sendiri terlebih dahulu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, yakni untuk memperoleh nikmat tambahan mereka harus lebih baik, sedangkan perolehan siksaan adalah akibat mengubah fitrah kesucian mereka menjadi keburukan dan kedurhakaan dan sesungguhnya Allah Maha mendengar apapun yang disuarakan mahkluk lagi maha mengetahui apapun sikap dan tingkah laku mereka.

Ayat ini juga berhubungan dengan ayat berikut ini

????? ??????? ?? ????????? ??? ???????? ?????? ??????????? ??? ?????????????? ??????? ??????? ??????? ???????? ?????? ???? ??????? ???? ????? ?????? ???? ??????? ???? ????? (??

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Kedua ayat tersebut berbicara tentang perubahan nikmat, menggunakan kata  ?? “ma” sehingga mencakup perubahan apapun, yakni baik dari nikmat positif menuju nikmat/murka illahi/negative maupun dari negative ke posotif.

Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi menyangkut kedua ayat diatas. Pertama, ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial yang berlaku bagi masyarakat yang lalu, masakini, dan masa mendatang. Keduanya berbicara tentang hukum-hukum kemasyarakatan, bukan menyangkut orang perorang atau individu. Ini dipahami dari penggunaan kata kaum/masyarakat pada kedua ayat tersebut. Karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia saja.

Kedua, ayat tersebut berbicara tentang kaum, maka ini berarti bahwa ketetapan atau sunnatullah yang dibicarakan ini berkaitan dengan kehidupan duniawi, bukan ukhrawi. Hal ini mengantar kita berkata bahwa ada pertanggungjawaban yang bersifat pribadi, dan ini akan terjadi di akhirat kelak.

Perubahan yang terjadi akibat campur tangan Allah atau yang diistilahkan oleh ayat di atas dengan apa menyangkut banyak hal seperti kekayaan dan kemiskinan, kesehatan , dan penyakit, kemuliaaan atau kehinaan, persatuan atau perpecahan, dan lain-lain yang berkaitan dengan masyarakat secara umum bukan yang secara individu. Jika demikian, bisa saja ada diantara anggota masyarakat yang kaya, tetapi tidak mayoritasnya miskin maka masyarakat tersebut dinamai masyarakat miskin demikian seterusnya. Kedua ayat ini menekankan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Allah, haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat. Tanpa perubahan yang dilakukan masyarakat pada diri mereka terlebih dahulu, maka mustahil akan terjadi perubahan sosial. Memang boleh saja terjadi perubahan penguasa atau system tetapi jika sisi dalam masyarakat tidak berubah, maka keadaan akan tetap bertahan sebagaimana sedia kala. Jika demikian yang paling pokok dalam keberhasilan perubahan social adalah perubahan sisi dalam manusia. Karena sisi dalam  manusia  itulah yang melahirkan aktivitas, baik positif maupun negatif.[4]

Pendapat Penulis makalah, Perubahan sosial bisa terjadi jika masyarakat itu terdidik. Melalui pendidikan manusia dapat belajar menjalani kehidupan dengan benar dan baik. Melalui pendidikan manusia dapat membentuk kepribadiannya.[5] Islam menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan umat manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang mengharuskan umat Islam untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Secara teoritis, Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia tidak mungkin dimilikinya tanpa melalui proses pendidikan. [6]

Dengan pendidikan manusia dapat menata kehidupan secara pribadi, maupun sosialnya. Seperti yang digambarkan Allah dalam surat Muhammad ayat 38 menerangkan bahwa kita disuruh untuk menafkahkan hartanya dijalan Allah. Bagi orang yang awwam dan tak berpendidikan agama maka akan berpendapat bahwa untuk apa kita harus memberikan sebagian harta kita untuk orang lain, yang harta tersebut adalah hasil dari usaha kita sendiri. Namun ini sangat berbeda ketika orang tersebut berpendidikan, pasti ada sisi sifat afektif terhadap sesama yang muncul pada dirinya,yaitu sifat kasih sayang dan mau berbagi sesama. Dan ketika itu terjadi dalam masyarakat, dapat kita bayangkan bagaimana kehidupan di masyarakat itu, apakah masyarakat itu tidak akan berubah baik secara culture maupun secara kebiasaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan dalam tafsir Al-Maraghi:

Ayat ini mengisyaratkan, bahwa nikat-nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada umat dan individu sejak pertama dan untuk selamanya, tergantung pada akhlak, sifat dan berbagai perbuatan yang dituntut oleh nikmat itu. Selama, perkara-perkara ini tetap ada pada mereka, maka nikmat-nikmat itu pun tetap ada pada mereka. Allah tidak akan mencabutnya dari mereka, sedang mereka tidak melakukan suatu kedzaliman atau dosa sedikitpun. Tetapi, apabila mereka mengubah sendiri akidah, akhlak, dan perbuatan baik yang seharusnya mereka lakukan, maka Allah pasti mengubah keadaan mereka dan mencabut nikmat yang telah diberikannya kepada mereka, sehingga orang yang akan menjadi fakir, orang mulia menjadi hina dan orang kuat menjadi lemah.[7]

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Setelah kami paparkan uraian makalah diatas, maka dapat kami simpulkan bahwa di dalam alqur’an sudah sangat jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa pendidikan dapat merubah kehidupan sosial masyarakat, pendidikan tersebut harus berawal dari diri manusia itu sendiri (Surat Al-Anfaal ayat 53).

Dan pada pembahasan ayat berikutnya (surat Muhammad ayat 38) Allah memberikan jaminan bagi masyarakat yang mempunyai pendidikan baik dan mengamalkannya akan diberikan nikmat. Dalam ayat ini Allah menjamin orang yang dermawan akan diberikan tambahan nikmat, dan bagi yang kikir Allah akan memberikan nikmat kepada kaum yang lain. Kita tahu secara konsep dasar bahwa orang bisa menjadi dermawan karena ia tahu bahwa apa yang ia miliki hanya titipan dari Allah dan sebagian hartanya adalah milik orang fakir miskin.

Demikianlah kesimpulan makalah kami, pastilah dalam pembahasan makalah ini banyak kekurangan baik dari esensi materi maupun sistematika penulisan.  Makanya kami mengharap kritik dan saran yang membangun bagi perbaikan dalam penulisan karya ilmiyah yang berikutnnya. Akhir kata dari kami wal afwu mingkum wa syukron jazilaa…..

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Maraghi, Ahmad Musthofa,. Terjemah tafsir al Maraghi juz 10. 1992(Semarang: CV toha Putra)

Bakry, M.Ag., Drs. H. Sama’un, Menggagas Konsep Ilmu Penddikan Islam, (Bandung: Pustaka Bani Qurasy, 2005),

Shihab, M. Quraish. Tafsir al Mishbah. ( Jakarta: Lentera Hati: 2002)

Terjemahan dari Al Quran Word


[1] Terjemahan dari Al Quran Word

[2] Terjemahan dari Al Quran Word

[3]Shihab, M. Quraish. Tafsir al Mishbah. Jakarta: Lentera Hati: 2002)hlmn. 472-475

[4] Ibid, hlm 475

[5] Drs. H. Sama’un Bakry, M.Ag. Menggagas Konsep Ilmu Penddikan Islam, (Bandung: Pustaka Bani Qurasy, 2005), hlm. 1.

[6] Ibid

[7] Ahmad Musthofa Al-Maraghi. Terjemah tafsir al Maraghi juz 10. 1992(Semarang: CV toha Putra) hlmn 24

No comments yet.

Leave a Reply