Hukum Sedekah Laut

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Adat warisan leluhur memang sudah ada dan menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat. Apalagi di negara Indonesia yang kaya akan adat dan budaya warisan nenek moyang. Salah satu yang menarik adalah upacara sedekah laut. Yang merupakan upacara tradisi warisan leluhur nenek moyang sudah banyak dihilangkan oleh penerusnya. Namun tidak sedikit juga masih ada beberapa masyarakat yang melestarikan adat ini.

Semakin lama adanya adat dan kebudayaan semakin dihilangkan oleh masyarakatnya sendiri, yang seharusnya berperan untuk melestarikan adat dan kebudayaan warisan nenek moyang. Dizaman yang semakin modern ini fikiran masyarakat semakin maju dan berfikir praktis. Karena perubahan pola hidup dalam masyarakat itulah yang menjadikan masyarakat berfikiran bahwa adat warisan masyarakat itu kuno atau ketinggalan zaman. Atau banyak juga yang beranggapan tradisi itu sudah menyalahi agama. Apapun pendapat yang ada tidak mengurangi kekhusukkan masyarakat yang percaya adanya adat yang sudah ada sejak nenek moyang mereka ini. Justru dengan ada banyaknya pendapat dapat dijadikan suatu pembahasan. Pembahsan ini mencakup bagaimana dan apa prosesi sedekah laut iti. Atau untuk mengetahui apakah masih ada masyarakat yang mempercayai dan melestarikan adat kebudayaan ini ditengah pendapat – pendapat yang bermunculan dan pro-kontra yang ada.

  1. Perumusan Masalah

Setelah membaca latar belakang masalah dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Apa yang dimaksud dengan upacara sedekah laut?
  2. Apa tujuan sedekah laut?.
  3. Bagaimana sedekah laut menurut islam dan Pro-kontra yang ada di masyarakat?.
  1. Tujuan Penulisan
    1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan upacara sedekah laut.
    2. Untuk mengetahui tujuan Sedekah laut.
    3. Untuk menjelaskan sedekah laut menurut islam dan Pro-kontra yang ada di masyarakat.

C.     Manfaat Penulisan

  1. Secara praktis dapat dilihat bertujuan untuk memberikan gambaran  kepercayaan masyarakat jawa khususnya terhadap adat sedekah laut dan bagaimana hukumnya menurut Islam
  2. Secara teoritis penelitian ini diharapkan untuk menambah dan memperkaya ilmu pengetahuan bagi masyarakat khususnya mahasiswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian sedekah laut

Sedekah berasal dari bahasa Arab: shadaqah. Dalam pengertian khusus, kata itu mengandung arti pemberian seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang-orang muslim untuk memenuhi kepentingan seseorang atau umum dengan niat untuk memperoleh pahala dari Tuhan. Adapun shadaqah dalam pengertian luas, mencakup juga pemberian yang disebut zakat dan infaq.[1]

Upacara sedekah laut adalah salah satu perwujudan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan. Istilah sedekah bumi dan sedekah laut sudah Iama dikenal bangsa kita jauh sebelum kita mencapai kemerdekaan dengan mendirikan Negara Republik Indonesia. Kedua istilah itu merupakan perpaduan antara kepercayaan lama dengan kepercayaan baru.  Sebelum agama Islam masuk ke Tanah Air -waktu itu belum muncul nama Indonesia sebagian penduduk berpegang pada kepercayaan lama dari nenek moyang secara turun temurun, yang dalam istilah Ilmu Agama disebut animisme, dinamisme, fetisisme, dan politeisme. Sebagian yang lain memeluk agama Hindu dan Buddha. Mereka mempercayai adanya kekuatan supernatural yang mengusai alam semesta, berupa dewa-dewa. Di antaranya ada dewa yang mengusai lautan (Varuna), dan menguasai bumi (Pertiwi ). Sebagai ungkapan rasa syukur dan pemujaan kepada dewa-dewa tersebut, mereka mengadakan upacara-upacara (ritual ), dengan membaca mantra-mantra dan mempersembahkan sesaji.

Sedangkan pengertian kebudayaan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Kebudayaan adalah perilaku yang dipelajari, seorang tidak dapat dilahirkan dengan tanpa kebudayaan, kebudayaan itu bersifat universal, setiap manusia memiliki kebudayaan yang dia peroleh melalui usaha sekurang-kurangnya melalui belajar secara biologis.

Kebudayaan merupakan “jumlah” dari seluruh sikap, adat istiadat, dan kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dengan kelompok lain, kebudayaan diwujudkan melalui bahasa, objek material, ritual, institusi (milsanya sekolah), dan kesenian, dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.

Kebudayaan tradisional di Indonesia sangat beragam. Salah satu ragam dari kebudayaan tradisonal adalah upacara tradisional. Upacara tradisional biasanya berkaitan dengan kepercayaan atau religi adalah salah satu unsur kebudayaan yang paling sulit berubah dibandingkan unsur kebudayaan yang lain. Upacara tradisional tersebut merupakan upaya manusia untuk mencari keselamatan, ketentraman dan sekaligus menjaga kelestarian. Misal upacara sedekah laut. Upacara sedekah laut yang akan dibahas dalam makalah ini adalah upacara sedekah laut yang dilaksanakan di Kabupaten Bantul.[2]

Prosesi sedekah laut di Bantul

Upacara Sedekah Laut Poncosari ini berada di Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantui, Propinsi DIY. Dengan pusat kota Yogyakarta, desa tersebut berjarak sekitar 27 km ke arah Tenggara. Karena masyarakat Ngentak mata pencahariannya sebagai nelayan maka sedekah itu dimaksudkan sebagai rasa syukur nelayan atas diberi keselamatan dan penghasilan berupa ikan dan ditujukan kepada Sang Penguasa Laut, dengan harapan supaya para nelayan ini selalu diberi hasil yang banyak dan selalu diberi keselamatan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun sekali dan jatuh pada hari minggu pertama di bulan Syawal dan sudah berjalan secara turun temurun. Jadi misalnya lebaran pertama jatuh pada hari Rabu, maka pada hari Minggunya dilakukan Upacara Sedekah Laut. Menurut pemangku adat setempat, bahwa dipilihnya hari Minggu pertama di bulan Syawal itu dimaksudkan saudara-saudara atau anak cucu yang tinggalnya jauh dari Desa Poncosari masih berlibur di rumah orang tuanya sehingga bisa menyaksikan upacara tersebut.disamping itu karena hari Minggu merupakan hari libur, sehingga dapat menyemarakkan Pantai Pandan Simo. Dengan demikian dapat menambah income daerah karena banyak pengunjung yang kesana. Mengenai waktunya mulai upacara adalah pukul 10.00 WIB dan kadang-kadang berakhir sampai pukul 14.00 siang. Dalam hal ini tergantung dari banyak sedikitnya acara. Pelaksanaan upacara ditangani oleh para nelayan Dusun Ngentak. Salah satu di antara mereka, ada satu orang yang bertugas untuk melabuh sesaji ke tengah laut. Menurut pemangku adat, orang pilihan tersebut harus seseorang yang handal. Sedangkan para istri nelayan bertugas memasak dan menyiapkan sesaji. ( Kompas.com, Jumat, 17 Juli 2009)

Acara Sedekah Laut dimulai dengan pembakaran kemenyan dan doa-doa dipimpin oleh Mbah Cokro seabgai Juru Kunci petilasan HB VII. Sebelum membakar kemenyan terlebih dahulu mBah Cokro duduk bersila menghadap ke laut lalu menyembah dan dilanjutkan dengan pembakaran kemenyan. Setelah selesai lalu berdoa bersama dipimpin oleh juru kunci. Dalam upacara ini, peralatan yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Perahu tempel, yang nantinya dipakai untuk membawa sesaji yang akan dilabuh ke tengah laut,
  2. Ancak, dari belahan bambu yang dianyam dengan bentuk segi empat untuk tempat sesaji.
  3. Jodhang, terbuat dari kayu yang dibuat empat persegi panjang untuk mengangkut sesaji yang akan dibawa ke pesisir,
  4. Tampah/tambir, bentuknya bulat dari anyaman bambu untuk tempat sesaji.
  5. Pengaron, terbuat dari tanah liat untuk tempat nasi.
  6. Takir, terbuat dari daun pisang yang dibentuk lalu pada kedua ujungnya diberi janur atau daun nyiur muda untuk tempat jenang sesaji.
  7. Ceketong, terbuat daun pisang untuk sendok.

Sesajinya ada bermacam-macam Sesaji yang khusus untuk Kanjeng Ratu Kidul yang nantinya dilabuh, yaitu:

  1. Bunga Telon, terdiri dari mawar, melati, kantil, kenanga dan sebagainya
    b. Alat-alat kecantikan khusus wanita meliputi bedhak, sisir, minyak wangi, pensil alis, dan sebagainya.
  2. Pakaian sak pengadek atau lengkap wanita, ada baju, celana, kebaya yang semuanya harus baru.
  3. Jenang-jenangan, yang berwarna merah, putih, hitam, palang katul, dan sebagainya.
  4. Jajan pasar, yaitu makanan kecil-kecilan seperti kacang, lempeng, slondok, dan sebagainya yang dibeli di pasar.
  5. Nasi udhuk atau nasi gurih, beras yang dimasak bersama santan, garam, dan sebagainya.
  6. Ayam ingkung, ayam jantan yang dimasak utuh dengan kedua kaki dan sayap diikat.
  7. Pisang sanggan, dari pisang raja yang berjumlah genap.
  8. Pisang raja pulut, sesisir pisang raja dan sesisir pulut.
  9. Lauk pauk, terdiri dari rempeyek, krupuk, kedelai, tanto dan sebagainya.
  10. Lalapan, terdiri dari kol, buncis yang dirajang halus.

Selama persiapan dan pelaksanaan upacara Sedekah Laut, semua kegiatan di laut dihentikan. Pada malam menjelang hari H, diadakan tahlilan yang dipimpin oleh Rois atau Kaur wilayah Dusun Ngentak. Pagi harinya, barang-barang yang dimasak untuk persiapan sesaji mulai diatur di tempat yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dan kemudian dicek kelengkapannya oleh Pemangku Adat. Di lain pihak, bapak-bapak yang akan mengikuti prosesi siap memakai pakaian kejawen, sedang Tekong yang bertugas untuk melabuhkan sudah siap dengan pakaian melaut yang dilengkapi dengan pelampung. Perlu diketahui bahwa masyarakat pedusunan Ngentak ini tiap-tiap RT sudah mempunyai seragam tersendiri, misalnya warga RT 01 seragamnya bunga-bunga merah, warga RT 02 bunga-bunga kuning dan sebagainya. Seragam ini dipakai setiap ada kegiatan di kampung dan setiap ada Upacara Sedekah Laut[3].

Menjelang pukul 10.00 WIB, jodhang beserta sesaji yang lain mulai diusung dibawa ke pesisir dengan diiringi teberapa barisan yang berseragam dari RT di wilayah Ngentak. Sesampai di sana telah diterima oleh panitia yang bertugas. Namun sebelum itu terlebih dahulu Juru Kunci sudah datang ke Petilasan HB VII untuk membakar kemenyan dan memohon doa restu . Kemudian acara puncak Sedekah Laut adalah melabuh barang sesaji ke tengah laut oleh seorang Tekong yang bertugas. Semua barang yang dipakai untuk upacara mempunyai makna sebagai persembahan puji syukur pada Yang Maha Agung lantaran Kanjeng Ratu Kidul sebagai penjaga Laut Selatan atas keselamatan dan penghasilan mereka dalam mencari ikan di Segoro Kidul atau Laut Selatan. Berbagai sesaji itu mempunyai makna tersendiri:

  1. Pisang sanggan, sebagai lambang bahwa raja atau ratu adalah yang tertinggi,
  2. Pisang raja pulut, sebagai lambang pengikut, supaya tetep, lengket, kelet, sehingga hubungan antara raja dengan rakyat itu tetap abadi dan melekat.
  3. Jenang palang (merah putih) dengan palang, sebagai lambang supaya masyarakat Ngentak dalam mencari nafkah tidak ada yang menghalang-halangi,
  4. Jenang merah putih, sebagai lambang ibu yang melahirkan manusia,
  5. Jenang hitam, sebagai lambang persembahan kepada saudara atau kakang kawah adi ari-ari
  6. Nasi ameng, sebagai lambang permohonan keselamatan dari Yang Maha Agung,
  7. Nasi rasulan/udhuk, sebagai lambang junjungan Nabi Muhammad SAW,
  8. Ayam ingkung, sebagai lambang junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.
  9. Air tawar, sebagai lambang keselamatan.
  10. Alat kecantikan dan pakaian wanita, sebagai lambang kesukaan wanita untuk berdandan,
  11. Bunga, sebagai lambang permohonan dari keharuman.

Kurang lebih 15 tahun tradisi ini dilakukan oleh masing-masing rumah. Dalam perkembangannya, upacara Sedekah Laut ini dilaksanakan secara berkelompok sehingga semakin meriah dan semarak. Selanjutnya untuk tempatnya, karena untuk memohon keselamatan kepada Sang Ratu Laut Kidul, maka harus berada di pantai, yaitu di Pantai Pandan Simo dan menghadap ke Selatan dimana Sang Ratu Kidul berada. Sebagai penutupan upacara ini dipentaskan berbagai macam kesenian antara lain jatilan dan salawatan.[4]

  1. B.     Tujuan prosesi sedekah laut

Tujuannya agar para dewa memelihara keselamatan penduduk, menjauhkan mereka dari mala-petaka, dan melimpahkan kesejahteraan, berupa meningkatnya jumlah ikan di laut dan hasil pertanian. Sedekah Laut ini diadakan juga sebagai bentuk  rasa syukur  dari masyarakat nelayan setempat kepada penguasa alam, yang telah memberikan hasil laut melimpah kepada mereka. Dan dalam rangka memohon keselamatan kepada Tuhan agar saat masyarakat nelayan mencari ikan di laut terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan .

  1. C.    Sedekah laut menurut pendapat islam dan Pro-Kontra di masyarakat

Sedekah bagi kita ummat Islam merupakan kata yang tidak asing, bahkan kita senantiasa saling menganjurkan dan memerintahkan untuk mengamalkannya. Sedekah dalam bahasa arab di kenal dengan sodaqoh yang artinya memberi sedekah/derma ( dengan sesuatu ). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

???????????????????? ????????? ???????????? ????????????? ??????????? ???????? ??????????? ???????? ??????? ??????????????? ……… (???? ?????? : 264

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman jangan kamu menghalangi ( pahala ) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti ( perasaan si penerima ) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia….. ( Surat Al Baqoroh : 264 )”.

Dan sebaik-baik sedekah itu ialah yang dari lebihnya kebutuhan sendiri. Dan barang siapa yang memelihara kehormatannya, maka Allah akan memeliharanya. Dan barang siapa yang mencukupkan akan dirinya, maka Allah akan mencukupinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim ) Dari ayat dan hadits yang disebutkan diatas cukuplah bagi kita meyakini bahwa sedekah merupakan bagian dari syariat Islam yang sangat mulia, Allah memerintahkannya serta Rosulullah juga menganjurkannya. Sedekah kok dilarang ? setidaknya perkataan itulah yang pernah penulis dengar, demikianlah pernyataan sebagian masyarakat kita yang punya semangat tinggi ingin melaksanakan syiar Islam yaitu sedekah. Kenapa dilarang ? karena sedekah yang dimaksudkan adalah “ sedekah laut”, yaitu kegiatan yang berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi dangan aneka lauk dan kembang yang kemudian dihanyutkan di laut selatan disertai dengan persembahan kepala kerbau. Semua itu dipersembahkan kepada “ Ratu Laut Selatan” agar mereka mendapatkan berkah dengan banyaknya hasil tangkapan dan dijauhkan dari mara bahaya. Acara ini mengalami beberapa penyimpangan aqidah dalam ritual ini, yang secara tidak sadar membawa mereka kejurang kesyirikan yang dapat membatalkan kesempurnaan tauhid: yang pertama dengan keyakinan tersebut mereka meyakini bahwa ada dzat yang dapat memberikan rizqi selain Allah, yang kedua dengan ritual ini berarti mereka meyakini ada dzat yang dapat memberikan manfa’at dan mudhorot selain Allah, padahal semua itu adalah hak prerogatif Allah. Dengan demikian pelaku ritual sedekah laut adalah lebih bodoh dari pada kaum musyrikin jaman jahiliyyah, karena kaum musrikin pada masa jahiliyyah ketika ditanyakan kepada mereka siapa yang telah memberikan rizqi kepada mereka, maka serta merta mereka akan berkata Allah ! sebagaimana firman Allah dalam surat sehingga dengan disengaja atau tidak mereka telah terjerumus kedalam peribadahan kepada selain Allah yaitu dengan memberikan hak memberi rizqi dan memberikan manfa’at serta mudhorot yang merupakan hak prerogatif Allah kepada selain Allah ( Ratu Pantai selatan ). Mereka menganggap sedekah laut itu adalah bagian dari Islam, buktinya acara ini di ikuti oleh mayoritas ummat Islam dan yang berdo’apun para kyai, keyakinan ini begitu merasuk kedalam kehidupan masyarakat kita sehingga kegiatan ini menjadi ritual tahunan yang wajib dilaksanakan. Padahal didalamnya terdapat banyak sekali kesyirikan dan penyimpangan yang mengatas namakan Islam. Ketahuilah bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ibadah kepadaNya, itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh ummat manusia dan hanya untuk itu sebenarnya mereka diciptakan. sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur ?wÎ) Èbrß?ç7÷èu?Ï9 ÇÎÏÈ

Artinya:“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Islam berpendapat sedekah – sedekah itu memberi kepada laut, dengan tujuan mempercayai bahwa laut itu memberikan semua hal yang di inginkan manusia, seperti memohon kekayaan, ataupun kesehatan. Islam berpendapat meminta sesuatu selain kepada Allah SWT itu musrik atau menyekutukan Allah. Dan dalam ajaran islam itu diharamkan. Dalam islam sedekah berarti memberi dan menjadikan manfaat bagi orang lain. Akan lebih baik diberikan kepada anak yatim atau fakir miskin. Sedangkan dalam sedekah laut, membuang makanan kelaut berarti mubadzir. Membuang – buang rizqi dari Allah SWT.

Dalam upacara sedekah laut banyak yang dilarung atau yang sering disebut dengan sesajen. Dalam agama islam asal usul sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan. Seperti: ritual menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan di sebagian daerah yang ada di indonesia misalnya di jawa upacara Nglarung (membuang kesialan) ke laut yang masih banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di pesisir pantai selatan pulau Jawa tepatnya di tepian Samudra Indonesia yang terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidul.

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa budaya seperti tersebut di atas bukan budaya islam, melainkan ini adalah ajaran dari agama hindu dan budha penyembah batu dan berhala itu. Hukum tumbal dan sesajen merupakan warisan kepercayaan animisme dan dinamisme, yaitu suatu anggapan bahwa benda-benda atau tempat tertentu di alam raya ini memiliki kekuatan ghaib yang dapat mencelakai seseorang atau menolong dan memenuhi keinginannya. Dan agar penguasa tempat atau benda tersebut tidak mengganggu, maka harus di sogok dengan sebuah hadiah, baik itu tumbal kepala sapi, ayam dll atau sesajen berupa makanan baik itu rendang atau sate gulai dan masih banyak lagi , yang itu jelas merupakan salah satu bentuk dari ibadah yang haus di lakukannya.

Pada hukum asalnya dalam Islam, memalingkan peribadatan, do’a, pengharapan, nadzar, isti’anah, istigha-tsah dan sebagainya kepada selain Allah adalah syirik. Secara mutlak orang yang melakukan kesyirikan adalah kafir keluar dari islam, apabila orang tersebut sudah di berikan hujjah atau argument yang kuat hingga sampai kepadanya kebenaran yang haqiqi, dan neraka tempat bagi orang-orang musyrik.

Tumbal dan sesajen adalah syirik dan berbahaya, sama bahayanya dengan kemusyrikan yang lain, di antara bahaya itu adalah:

  1. Menjerumuskan ke Neraka

Kemusyrikan merupakan penyebab utama untuk masuk neraka, Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

¨bÎ) ©!$# ?w ãÏÿøót? br& x8u?ô³ç? ¾ÏmÎ/ ãÏÿøót?ur $tB tbrß? y7Ï9ºs? `yJÏ9 âä!$t±o? 4 `tBur õ8Î?ô³ç? «!$$Î/ Ï?s)sù #?u?tIøù$# $¸JøOÎ) $¸J?Ïàtã ÇÍÑÈ

Artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an-Nisa: 48)

  1. Membenarkan Khurafat

Dari keyakinan syirik inilah muncul berbagai khurafat yang tersebar di masyarakat, mitos dan legenda yang penuh dengan takhayul, kisah-kisah yang sama sekali tidak bisa diterima oleh akal sehat dan tidak dapat dibenarkan oleh hati nurani manusia.

  1. Syirik adalah Kezhaliman Terbesar.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (al-Baqarah: 254)
Juga firman-Nya yang lain, “Sesungguhnya kemusyrikan itu adalah kezhaliman yang besar.” (Lukman: 13) Adakah kazhaliman yang lebih besar daripada sikap seseorang yang diciptakan oleh Allah tetapi justru menyembah kepada selain Allah? Atau orang yang diberi rizki oleh Allah namun justru bersyukur dan memuja kepada selain Allah?

  1. Syirik Menimbulkan Rasa Takut

Orang musyrik tidak memiliki keteguhan dan rasa percaya kepada Allah, sehingga hidupnya penuh dengan kegelisahan, jiwanya labil dipermainkan oleh klenik, khurafat dan takhayul. Dia selalu diliputi ketakutan, takut akan segala-galanya dan terhadap segala-galanya, dan inilah kehidupan yang sangat buruk.

  1. Merupakan Pelecehan Terhadap Martabat Manusia

Apabila seseorang menyembah kepada sesama makhluk, yang          tidak dapat memberikan manfa’at dan menimpakan bahaya, maka berarti telah menjatuhkan martabat kemanusiaannya ke tempat yang terendah. Allah telah memuliakan manusia dan mengkaruniai akal kepada mereka, maka apakah layak dan pantas seorang yang berakal dan terhormat menyembah dan merendahkan diri di hadapan patung, pohon, jin, khadam, keris, batu dan yang semisalnya. Maka tidak ada pelecehan terhadap martabat manusia yang lebih parah daripada kemusyrikan.[5]

Itulah tadi beberapa pendapat islam mengenai sedekah laut. Jika membaca tentang pendapat islam diatas dapat diketahui islam sangat melarang dan sangat kontra dengan sedekah  laut. Mereka menganggap itu adalah ritual musrik dan merusak moral umat islam, namun jika dilihat dari prosesi ritual, Mereka tidak secara drastis mengadakan perubahan terhadap kepercayaan dan adat istiadat lama,melainkan sampai batas-batas tertentu,memberikan toleransi,membiarkannya tetap berlangsung dengan mengadakan perubahan seperlunya saja. tetap berjalan dan menghargai penduduk yang memeluk agama islam. Dapat dilihat mantra-mantranya diganti dengan doa-doa secara Islam, dan nama upacara disesuaikan dengana ajaran Islam, yaitu dengan istilah sedekah laut dan sedekah bumi. Perubahan yang menyangkut aspek teologis dilakukan secara bertahap, sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial. Ini merupakan dan meniru salah satu metode dakwah mubalig pada masa awal kedatangan Islam di Tanah Air kita. Jadi meskipun bayak kontra banyak juga yang yang masih mempercayai upacara sedekah laut ini dikarenakan juga  prosesi ini menghargai setiap pemeluk agama dan orang berhak mempercayai atau tidak adat yang sudah ada sejak dahulu ini.

Begitu juga kebiasaan/tradisi-tradisi masyarakat yang lain juga seperti itu, misalnya Sedekah bumi. Sedekah bumi adalah pesta atau perayaan guna memperingati jin penjaga desa ( mbahu rekso, jawa) untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan, dan kadang terdapat hal- hal yang mungkar yang biasa dikerjakan penduduk desa, karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dahulu kala. Adat kebiasaan seperti itu hukumnya haram[6].

.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Setelah membaca pembukaan dan pembahasan makalah di atas dapat diketahui adat istiadat memang beragam dan tidak terlepas dari kehidupan dan kebiasaan masyarakat. Apapun pendapat dan opini yang ada harus dihargai dan saling menghormati. Kerena adat istiadat yang beragam merupakan peninggalan nenek moyang untuk anak cucunya, agar dapat dilestarikan sampai kapanpun itu.

Dan berkenaan dengan kebudayaan di Indonesia khusunya “sedekah laut” menurut pandangan Islam bahwa jika sedekah tersebut ditujukan kepada laut terutama kepada Ratu Selatan (Selain Allah), itu berarti kegiatan tersebut dapat dikategorikan sebagai Syirik dan dalam hukum Islam diharamkan. Namun jika tradisi itu diubah dan diformat menurut syari’at Islam maka diperbolahkan, misal saja diubah menjadi acara syukuran yang isi acara tersebut adalah tahlilan, itu berarti sebagai ucapan syukur atau terima kasih kepada Allah.

  1. Saran dan Harapan

Dari uraian materi makalah diatas  dapat dijakadikan sebagai acuan dalam menanggapi problamtika masyarakat sekarang ini. Dan juga dapat dijadikan problem solving atas masalah tersebut sehingga tradisi yang ada di Indonesia ini tidak punah.

Demikian makalah yang kami susun, pastilah dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan karena kami sadar ini merupakan keterbatasan dari kami. Makanya kami mengharap kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Dr .KH. MA. Mahfudh, Sahal.1999, Solusi Problematika Aktual  Hukum  Islam, Surabaya:Diantama ( Kompas.com, Jumat, 17 Juli 2009)

www.tegalan.info/Budaya/sedekahlaut.html

http://yudhim.blogspot.com/2008/01/pengertian-kebudayaan.html

http://gudeg.net/directory/72/334/Sedekah-Laut-Poncosari.html

Iiyas,Yunahar.2006.kuliahaqidahislam. yogyakarta;LPII UMY). (Zainu,Muhammad bin jamil.2001 pilar islam dan Iman.Yogyakarta; Mitra pustaka) Departemen Agama RI.2004.Al Qur’an dan terjemahannya.


[1] www.tegalan.info/Budaya/sedekahlaut.html

[3] Kompas.com, Jumat, 17 Juli 2009

[5] Iiyas,Yunahar.2006.kuliahaqidahislam. yogyakarta;LPII UMY). (Zainu,Muhammad bin jamil.2001 pilar islam dan Iman.Yogyakarta; Mitra pustaka) Departemen Agama RI.2004.Al Qur’an dan terjemahannya.

[6] DR. KH. MA. Sahal Mahfudh, solusi problematika actual hukum islam. Hal: 93

No comments yet.

Leave a Reply